Artikel ZAKAT, INFAK, DAN SEDEKAH UNTUK KESEAHTERAAN YANG UTUH
ZIS

ZAKAT, INFAK, DAN SEDEKAH UNTUK KESEAHTERAAN YANG UTUH

ZAKAT, INFAK, DAN SEDEKAH UNTUK KESEAHTERAAN YANG UTUHoleh: Dr. Abdul Hafiz, M.Ag. (Ketua DPS Lazismu Bengkulu) Tugas Allah ada dua: mewujudkan kesejahteraan...

DA Dr. Abdul Hafiz, M.Ag. · 03 Agustus 2026 · 4 menit baca
DASHBOARD DONASI 2026
Zakat
ZAKAT MAAL & FITRAH
Rp 1,3 jt
36% DARI TOTAL
Infaq
INFAQ
Rp 2,3 jt
64% DARI TOTAL
Sedekah
SEDEKAH
Rp 0
0% DARI TOTAL

ZAKAT, INFAK, DAN SEDEKAH UNTUK KESEAHTERAAN YANG UTUH

oleh: Dr. Abdul Hafiz, M.Ag. (Ketua DPS Lazismu Bengkulu)







Tugas Allah ada dua: mewujudkan kesejahteraan jasmani dan mewujudkan kesejahteraan rohani (QS. Al-Quraisy - Ayat: 4). Allah ciptakan tumbuh-tumbuhan, hewan, bumi, air, udara, dan api untuk memenuhi kesejahteraan jasmani manusia. Allah turunkan wahyu, ciptakan akal, adakan perasaan, timbulkan nafsu, dan berikan inspirasi agar manusia memperoleh kesejahteraan rohani.


Allah memerintahkan manusia mengelola alam raya untuk kesejahteraan mereka. Maka Ia perintahkan mereka belajar lalu Ia perintahkan pula mereka untuk giat bekerja agar dapat mewujudkan kesejahteraan jasmani. Allah menyuruh manusia untuk bekerja dan melarang bermalas-malasan untuk mengumpulkan kekayaan. Dengan kekayaan itu mereka dapat membeli makanan, mendapatkan pakaian, membangun tempat tinggal, dan membeli kendaraan agar jasmani dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.


Allah perintahkan manusia untuk salat, puasa, zakat, haji, dan zikir sebanyak-banyaknya agar mereka sejahtera secara rohani. Menegakkan salat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, menunaikan haji, dan berzikir adalah saat-saat manusia sangat dekat dengan Allah. Ketika salat, manusia berbicara langsung dengan Allah.  Ketika membayar zakat, ia bersihkan hartanya dari kotoran karena kotoran itu menjadi penghalang untuk dekat dengan-Nya. Ketika berpuasa, manusia dekat dengan Allah karena ia selalu merasa diawasi-Nya sehingga tidak mau melanggar larangan puasa. Dalam haji, manusia meninggalkan hal-hal yang biasa mereka lakukan yang mereka anggap remeh: mengumpat, nyinyir, ngotot, karena takut dibalas Allah. Kesejahteraan rohani pada hakikatnya ada pada kedekatan dengan Allah. Semakin dekat seseorang dengan Allah maka makin sejahteralah rohaninya.


Banyak orang lebih fokus pada usaha mewujudkan satu kesejahteraan. Ada orang yang bekerja keras untuk mewujudkan keseahteraan jasmani belaka. Habis hidupnya untuk bekerja demi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ia memang mendapatkannya. Hartanya menumpuk. Kekayaannya tidak terhitung. Jasmaninya benar-benar sejahtera. Citra lezat makanan berkualitas dan mahal dapat mampir kapan saja di lidahnya. Pakaian berkelas dan hiasan berkilauan melilit tubuhnya. Rumah megah memanjakannya dan kendaraan mewah memberinya kenyamanan. Namun ia tidak mendapat kehangatan di rumahnya sendiri. Ia merasa terasing. Setiap anggota keluarga sibuk dengan urusan masing-masing. Ia sering berada dalam kekhawatiran kalau-kalau hartanya berkurang atau hilang. Kekayaan yang berlimpah menyebabkan ia merasa tidak memerlukan hubungan dengan siapapun, bahkan dengan Allah.


Ada pula orang yang memusatkan segala daya upaya untuk memperoleh kesejahteraan rohani. Dunia tidak berarti baginya. Salat wajib, salat sunnah, dan segala sunnah salat ia laksanakan. Puasa wajib, puasa sunnah, dan segala sunnahnya ia jalankan. Mulutnya senantiasa komat-kamit melantunkan zikir dan menyebut asma Allah dan lafal-lafal suci lainnya. Namun ia tidak berdaya ketika anaknya putus sekolah karena tidak mampu membiayainya. Naik haji baginya hanyalah mimpi karena ia tidak pernah punya bekal untuk itu. Padahal tanpa haji rukun Islam belum tuntas ditunaikan.


Upaya mewujudkan kesejahteraan jasmani dan kesejahteraan rohani tidak semestinya dipisahkan karena Allah memerintahkan keduanya dalam kerangka ibadah kepada-Nya. Maka hendaklah mereka beribadah kepada Tuhan pemiliki rumah ini (Qs 106: 3). Ibadah kepada Allah artinya menaati perintah Allah untuk mempelajari alam raya dan membangun kehidupan yang hasilnya dinikmati orang banyak. Ibadah kepada Allah artinya menaati perintah Allah untuk salat agar kesejahteraan rohani dapat diperoleh. Ibadah kepada Allah artinya menaati perintah-Nya untuk menolong fakir, miskin, dan orang-orang tertindas.


Zakat, infak, dan sedekah (zis) adalah perintah Allah untuk memperoleh kedua sisi kesejahteraan. Perintah Allah untuk menunaikan zis adalah perintah untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak harta yang dimiliki semakin tinggi pula kesejahteraan jasmani diperoleh. Semakin banyak harta yang dimiliki semakin banyak pula zis yang dibayarkan. Semakin banyak zis yang dibayarkan maka semakin banyak orang yang terbantu: terbantu dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan terbantu dalam memperoleh pendidikan. Semakin banyak orang yang terbantu, maka semakin tinggi kesejahteraan rohani yang diperoleh. Kesejahteraan rohani dalam bentuk kebahagiaan ketika melihat penerima zis lepas dari kesengsaraan, ketika melihat penerima zis keluar dari rumah sakit lepas dari penyakit yang diderita, ketika melihat penerima zis berhasil menamatkan pendidikannya. Kesejahteraan rohani adakalanya dalam bentuk penghormatan dari lingkungan berkat bantuan yang sering diberikan. Kesejahteraan rohani dalam bentuk perlindungan oleh masyarakat sehingga dapat hidup nyaman dan damai karena masyarakat merasa wajib melindunginya berkat zis yang diberikannya.


Orang yang membayarkan zis adalah orang yang sejahtera secara jasmani karena semua kebutuhan jasmaninya dapat ia penuhi. Orang yang membayarkan zis adalah orang yang sejahtera secara rohani karena tidak ada penghalang baginya untuk dekat dengan Allah. Ia rela melepaskan sebagian bahkan seluruh hartanya agar bisa dekat dengan Allah. Inilah kesejahteraan yang utuh.

Mulai salurkan kebaikan yang bisa dilacak

Bergabung dengan ribuan donatur yang mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya lewat LAZISMU.

Donasi Sekarang
Butuh bantuan? Chat via WhatsApp